Eddy Soeparno Dorong Transformasi Transportasi Listrik dan Pengurangan Ketergantungan LPG

Abadikini.com, JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menekankan pentingnya percepatan transformasi transportasi publik berbasis listrik dan pengurangan ketergantungan pada LPG guna mempercepat transisi energi di Indonesia. Ia menyatakan bahwa elektrifikasi massal di berbagai sektor merupakan kunci untuk memastikan transisi energi berjalan optimal.
“Transformasi menuju kendaraan listrik, khususnya transportasi publik dan kendaraan pribadi, serta penggantian LPG dengan kompor induksi, akan turut mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dalam waktu tiga sampai lima tahun mendatang,” ujar Eddy dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu.
Eddy juga mendorong penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, seperti biodiesel B40 dan biofuel untuk kendaraan bermotor, serta produksi sustainable aviation fuel (SAF) untuk sektor penerbangan. Menurutnya, pengembangan sektor kelistrikan berbasis energi bersih merupakan langkah krusial bagi Indonesia dalam mencapai target net zero emission (NZE) pada 2060.
“Harus diingat, pertumbuhan ekonomi dengan tambahan pasokan energi yang diproyeksikan meningkat harus sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mewujudkan net zero emission di tahun 2060 atau lebih awal,” ucapnya.
Dalam jangka menengah, Eddy menyoroti pentingnya pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture storage/CCS), serta energi baru seperti hidrogen dan amonia. Ia menilai, pemanfaatan teknologi CCS dan pengembangan energi baru tersebut diharapkan dapat berkontribusi signifikan dalam mengurangi emisi karbon di sektor kelistrikan.
Eddy memperkirakan, Indonesia akan beralih dari sumber energi fosil ke energi terbarukan secara bertahap hingga tercapai keseimbangan antara pasokan energi fosil dan energi terbarukan pada tahun 2035. Bahkan, pada tahun 2040, bauran energi terbarukan diharapkan mencapai hampir 60 persen dari total bauran energi nasional.
Langkah-langkah tersebut, menurut Eddy, menegaskan komitmen Indonesia dalam mempercepat transisi energi guna mencapai ketahanan energi yang berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan lembaga perbankan dan keuangan untuk membiayai berbagai proyek pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Selain itu, penerapan pajak karbon dalam waktu dekat diharapkan dapat mendukung program pengurangan emisi dengan memberikan efek jera bagi para emiten karbon.
“Dengan strategi yang terarah dan dukungan kebijakan yang kuat, Indonesia kini berada di jalur yang lebih jelas dalam membangun sistem energi yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan,” tutupnya. (Antara)